Kasih Ibu Tak Tak Pernah Lekang oleh waktu

Kasih sayang Ibu sepanjang masa.
Sebuah cerita viksi, dimana ada tempat yg mempunyai adat istiadat secara turun temurun, adat istiadat warisan leluhur “jika org tuanya sudah renta dan tdk bisa berjalan atau tdk bisa berbuat apa apa, maka anak ataupun keluarganya berhak membuang Ayah/ Ibunya ke Hutan. . . Adat istiadat yg bertentangan dgn Akidah kita sebagai penganut Agama Islam.

Tinggallah di tempat itu, seorang anak laki laki yg sederhana hidup bersama Ibunya yg sudah tua renta, walau Ayahnya sudah lama meninggal dunia, namun si anak ini memberikan kasih sayang terhadap ibunya dengan sangat luar biasa, semua keperluan dan kebutuhan sang ibu ia penuhi, sebagaimana ia dibesarkan waktu masih bayi sampai dewasa hingga sang Ibu sudah tdk bisa berbuat apa apa, hanya terbaring lemah tertidur di kasur lusuh, namun si anak berfikir, dgn cara inilah dia akan membalas jasa jasa Ibunya yg telah merawatnya hingga menjadi laki laki yg gagah perkasa dan tampan, sehingga menjadi anak dewasa yg berguna.


Suatu hari, si anak berhasrat ingin mempersunting/ menikahi gadis pujaan hatinya, namun terlebih dahulu si anak ini minta ijin ke Ibunya, maka, , si Ibupun merestui keinginan anaknya, dalam perasaannya si Ibu, “jika anaknya menikah, maka sudah pasti ada yg akan membantu merawatnya ketika ditinggal bekerja atau bepergian oleh anak laki lakinya” (Perasaan Ibunya sangat senang)
Proses lamaranpun berlangsung, dan ternyata, si anak ini menikah dgn seorang wanita cantik, kaya raya keturunan bangsawan, serta dri keluarga yg terpandang,Β  setelah proses pernikahan berlangsung, dimana acaranya sangat meriah dan mewah, pesta besar besaran, tempat berlangsungnya di kediaman mempelai wanita, yg dilaksanakan sesuai dgn adat istiadat daerah setempat, , ,
Selang beberapa hari setelah proses pernikahan telah rampung tibalah saatnya si wanita ini di ajak oleh suaminya untuk menemui sang Ibu yg terbaring tak berdaya di rumahnya, si pengantin wanitapun tdk sabar dan pastinya akan bahagia sekali bisa bertemu dgn mertuanya, , , namun setelah sampai di kediaman/ rumah suaminya diluar dugaanpun terjadi, sontak pengantin Wanitanya ini kaget dan tdk percaya bahwa suaminya adalah org miskin dan hidup sederhana, tinggal bersama sang Ibu yg sudah tua renta dan lemah, hingga akhirnya si wanita ini tdk terima,, dgn tegas dan angkuhnya berkaca pinggang, sambil berkata, ,”kalau kamu mw aku msh jd istrimu, maka tolong singkirkan org tua renta, tak berguna itu di rumah ini, atau kamu ikut saya dan tinggal di rumahku yg besar dan megah”, , , si anak ini terdiam membisu seribu bahasa, dan dalam hatinya timbul perasaan yg berkecamuk serta bimbang menentukan pilihannya, kiranya mana yg akan ia pilih, , , mungkin si anak ini sudah terhipnotis dgn gemerlap harta benda, dan cantik serta kayanya sang istri, , , selang beberapa saat, si anak ini menjawab, “saya akan membuang Ibu saya ke Hutan, dan akan memilih bersama kamu, Istriku yg cantik, kaya dan kusayangi” ucap sang anak itu kpd Istrinya, , ,Berhubung krn di daerahnya jg masih memegang adat istiadat, kalau org tua yg sudah renta bisa di buang ke Hutan yg akan jd santapan binatang buas atau akan mati kelaparan,,, dgn senyum lebar, si istripun merasa puas dan menyutujui.


Sementara si Ibu yg terbaring lemah tak berdaya di kasurnya meneteskan air mata, terlihat dri sudut matanya yg sudah sayu, buram dan keriput berkerut mengalir bulir air mata kesedihan dan pilu yg mendalam saat memendengar rencana anak dan menantunya terhadap dirinya, namun dlm hatinya dia selalu berdoa utk anaknya, semoga Allah SWT memberikan kebahagiaan serta keberkahan terhadap anaknya untuk menjalani setiap langkah kehidupannya di dunia ini.
Hingga proses pembuangannya pun berlangsung, namun sebelumnya si anakpun meminta izin utk membawa Ibunya ke hutan, sang ibupun pasrah tak kuasa, dlm benaknya terlintas sebuah pengakuan, sudah tdk ada lagi kasih syg, sudah tdk ada lagi rasa Iba, dan sudah tdk ada lagi sifat manja pd anak terhadap Ibunya, yg ada hanya kerakusan, kemunafikan dan kebiadaban, , , si anakpun menggendong Ibunya menggunakan Keranjang yg terbuat dari Bambu di belakang punggungnya, menuju Hutan rimba yg terdapat banyak bintang Buas, di perjalanan sang Ibu selalu menyambar ranting ranting kecil yg ia bisa patahkan dgn tangan keriputnya, hingga berapa mil jauhnya mereka lalui, maka sampailah mereka di tengah hutan, si anakpun melepas Ibunya dari gendongnya, kemudian si anak untuk terakhir kalinya mencium dan memeluk Ibunya dengan perasaan terharu, si Ibupun menangis dan mengusap kepala anaknya dgn penuh kasih syg, seraya berkata lirih, “anakku,,, inikah balasan yg kau berikan utk Ibumu, balasan terhadap org yg telah merawatmu, membesarkanmu serta mendidikmu,,,? sungguh tega dan tak berprikemanusiaan, anakku,,, sungguh kau telah tertipu dgn muslihat dunia, namun,,, Ibu akan selalu berdoa sampai akhir hayatku di tempat ini, semoga engkau bahagia bersama istrimu” ucap sang Ibu dgn suara terisak isak, kemudian sambil menatap anaknya dgn penuh kasih syg, si Ibupun melanjutkan kata katanya “jika dlm perjalanan pulang kmu kehilangan jejak nak, maka ikutilah ranting ranting yg Ibu patahkan tadi agar kmu tdk tersesat dan bisa sampai rumah bertemu dgn istrimu, Ibu tdk ingin kmu terjadi apa apa, pulanglah nak, sampaikan salamku pada istrimu, dan jangan lupa dongengkan ke cucu cucuku kelak bahwa nenekmu, eyangmu atau embahmu, telah melahirkan seorang anak yg durhaka dan tidak patut utk di contoh”, , , saat mendengar kata2 Ibunya, si anakpun bersujud di kaki Ibunya utk meminta maaf dan menangis histeris bahwa apa yg ia lakukan itu salah dan keliru, , maka, iapun ingin kembali menggendong Ibunya Pulang, namun sungguh naas, binatang buas sudah berkumpul di tempat itu, hingga si Anakpun di suruh utk lari oleh ibunya secepat mungkin dan mengikuti ranting ranting yg di patahkan Ibunya tadi utk menyelamatkan diri dari kejaran binatang buas, dan si Ibupun merelakan dirinya sebagai santapan binatang liar demi menyelamatkan anaknya agar sang anak tdk di kejar.
Hingga akhirnya si anak meratapi kesalahannya, meratapi perbuatannya dgn penuh penyesalan… namun apa daya, “nasi telah menjadi bubur”, semua tdk bisa terulang, yg ada hanyalah menjadikan sebuah peristiwa sebagai pembelajaran utk bisa mengambil tindakan yg lebih baik.
cintailah Ibu dan Ayahmu, Sayangilah org tuamu, spt mereka mencintai dan menyayangi kita hingga sebelum semuanya terlambat.

Cerita ini hanya karangan sy sendiri, namun kita hanya bisa mengambil hikmah yg terkandung di dalamnya.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai