BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Penelitian Relevan

Pada tahun 2015, Fikar dkk melakukan penelitian tentang identifikasi sebaran akuifer dengan menggunakan metode geolistrik di Desa Nata Kecamatan Palibelo Kabupaten Bima. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sebaran, kedalaman, ketebalan dan jenis akuifer airtanah didaerah tersebut dengan metode geolistik Schlumberger 1D untuk dijadikan sumur bor. Dari hasil penelitian dan pengolahan data, hampir di semua titik sounding terdapat lapisan akuifer, kecuali pad atitik sounding 4. Kedalaman dan ketebalan dari titik sounding 1, titik sounding 2, titik sounding 3, titik sounding 5, titik sounding 6, titik sounding 7, titik sounding 8 berbeda-beda. Berturut turut dengan kedalaman 17,80 meter, 20,60 meter, 31 meter, 17,70 meter, 38 meter, 29,30 meter, 22,60 meter. Jenis akuifer pada semua titik sounding adalah akuifer bebas.kedalaman antara 50-100 meter Akuifer dangkal yang mempunyai kedalaman antara 10-4- meter.


Parafrase :
pada tahun 2015, Fikar dan rekan-rekan melaksanakan studi mengenai pemetaan sebaran akuifer dengan metode geolistrik di Desa Nata, Kecamatan Palibelo, Kabupaten Bima. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami sebaran, kedalaman, ketebalan, dan jenis akuifer air tanah di kawasan tersebut melalui pendekatan geolistrik Schlumberger 1D, agar data tersebut bisa digunakan untuk pembuatan sumur bor. Berdasarkan analisis dan hasil penelitian, hampir semua titik pengukuran menunjukkan adanya lapisan akuifer, kecuali di titik pengukuran ke-4. Variasi kedalaman dan ketebalan ditemukan pada titik pengukuran 1, 2, 3, 5, 6, 7, dan 8, dengan kedalaman masing-masing adalah 17,80 meter, 20,60 meter, 31 meter, 17,70 meter, 38 meter, 29,30 meter, dan 22,60 meter. Di semua titik pengukuran, jenis akuifer yang terdeteksi adalah akuifer bebas dengan kedalaman berkisar antara 50 hingga 100 meter dan akuifer dangkal yang memiliki kedalaman antara 10 hingga 40 meter.

Pada tahun 2017, Purnama dan Noval melakukan kajian potensi air tanah dengan pengujian geolistrik di Desa Telonang Kabupaten Sumbawa Barat karena permasalahan masyarakat Kabupaten Sumbawa Barat akan ketersediaan air bersih, sehingga dilakukan penelitian untuk mengetahui potensi akuifer sebagai pemanfaatan air tanah melalui sumur dalam. Hasil penelitian menunjukkan zona 1 (Dusun A) batuan yang berpotensi sebagai akuifer adalah pasir tufaan dengan titik pengukuran 3 adalah lokasi yang memiliki potensi lebih besar dari pada titik lainnya. Karakteristik akuifer didaerah ini adalah akuifer setempat yang dipengaruhi oleh musim. Zona 2 (Dusun B) batuan yang berpotensi sebagai akuifer adalah pasir tufaan dengan titik pengukuran 3 adalah lokasi yang memiliki potensi lebih besar dari pada titik lainnya. Karakteristik akuifer didaerah ini adalah akuifer setempat yang dipengaruhi oleh musim. Zona 3 (Dusun C) batuan yang berpotensi sebagai akuifer adalah pasir tufaan dengan titik pengukuran 2 adalah lokasi yang memiliki potensi lebih besar dari pada titik lainnya. Karakteristik akuifer didaerah ini adalah akuifer setempat yang dipengaruhi oleh musim. Febriana et al (2017), melakukan penelitian identifikasi sebaran aliran air bawah tanah (groundwater) dengan metode Vertical Electrical Sounding (VES) konfigurasi schlumberger di wilayah Cepu, Blora Jawa Tengah. Dari hasil yang diperoleh potensi adanya air bawah tanah berada pada kedalaman 40 m sampai 60 m dari permukaan tanah dengan nilai resistivitas sebesar 0,79 – 4 Ξ©m. Sebaran air bawah tanah menyebar dari arah barat menuju ke timur dan titik yang paling banyak mengandung potensi air tanah terletak di Desa Karangboyo. Karakteristik penyusun lapisan batuan terdiri atas batupasir sebagai akuifer, batulempung sebagai akuifug, lempung lanau sebagai akuitar dan air tanah.


Parafrase:
Pada tahun 2017, Purnama dan Noval melaksanakan studi mengenai potensi air tanah dengan metode pengujian geolistrik di Desa Telonang, Kabupaten Sumbawa Barat. Penelitian ini dilakukan karena masyarakat di Kabupaten Sumbawa Barat menghadapi masalah ketersediaan air bersih, sehingga perlu diketahui potensi akuifer untuk penggunaan air tanah melalui sumur dalam. Penemuan dari penelitian ini mengindikasikan bahwa zona 1, yang dikenal sebagai Dusun A, memiliki batuan berjenis pasir tufaan yang berpotensi menjadi akuifer, dengan titik pengukuran 3 sebagai lokasi yang menunjukkan potensi lebih besar dibandingkan titik-titik lainnya. Karakteristik akuifer di wilayah ini bersifat setempat dan dipengaruhi oleh musim.Zona 2, atau Dusun B, juga menunjukkan bahwa pasir tufaan merupakan batuan berpotensi sebagai akuifer, dan titik pengukuran 3 di sini pun adalah yang paling menjanjikan. Di wilayah ini, akuifer termasuk dalam kategori setempat yang terpengaruh oleh perubahan musim. Zona 3, yang merujuk pada Dusun C, juga menunjukkan potensi sama pada pasir tufaan, dengan titik pengukuran 2 sebagai lokasi terbaik. Sifat akuifer di sini juga menunjukkan karakter setempat yang dipengaruhi oleh kondisi musiman.Febriana dan rekan-rekan (2017) melakukan penelitian untuk mengidentifikasi penyebaran aliran air bawah tanah menggunakan metode Vertical Electrical Sounding (VES) dengan konfigurasi schlumberger di daerah Cepu, Blora, Jawa Tengah. Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa potensi air bawah tanah ada pada kedalaman antara 40 m hingga 60 m dari permukaan tanah, dengan nilai resistivitas yang berkisar antara 0,79 hingga 4 Ξ©m. Aliran air bawah tanah bergerak dari arah barat ke timur, dan lokasi dengan kandungan air tanah tertinggi ditemukan di Desa Karangboyo. Konstruksi lapisan batuan di daerah ini terdiri dari batupasir yang berfungsi sebagai akuifer, batulempung yang bertindak sebagai akuifug, serta lempung lanau yang berperan dalam akuitar dan keberadaan air tanah.

Pada tahun 2018, Fitrianto dkk melakukan penelitian mengenai Identifikasi Potensi Air Tanah Menggunakan Metode Geolistrik Resistivitas Konfigurasi Schlumberger di Kelurahan Bapangsari Kecamatan Bagelen Kabupaten Purworejo. Penelitian dilakukan di dua lokasi dengan panjang lintasan yaitu 180 m. berdasarkan hasil penelitian dilokasi pertama diperoleh 6 jenis lapisan batuan yaitu top soil (28,5Ωm pada permukaan tanah dengan ketebalan 4,12 m) , kerikil (nilai resistivitas 55,7Ωm pada kedalaman 4,12 m dan kedalaman 3,11 m), lempung (8,9 Ωm pada kedalaman 7,13 m dan ketebalan 2,85 m), breksi andesit (116 Ωm pada kedalaman 9,98 m dan ketebalan 22,2 m), pasir tuf yang terisi air (1,23 Ωm pada kedalaman 32,2 m dan ketebalan 3,3 m), dan andesit masif (204 Ωm pada kedalaman 35,5 m). berdasarkan hasil penelitian di ketahui air tanah di kelurahan Bapangsari berada pada kedalaman 34,5 m dengan ketebalan 9,5 m untuk lokasi kedua dengan litologi diduga pasir tuf yang terisi air 1,50 Ωm.


Parafrase :
Pada tahun 2018, sebuah penelitian dilakukan oleh Fitrianto dan rekan-rekannya tentang Identifikasi Potensi Air Tanah menggunakan Metode Geolistrik Resistivitas dengan Konfigurasi Schlumberger di Kelurahan Bapangsari, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo. Penelitian ini dilaksanakan di dua tempat dengan panjang lintasan mencapai 180 m. Hasil dari penelitian di lokasi pertama menunjukkan adanya enam macam lapisan batuan. Lapisan tersebut adalah top soil (28,5Ωm di permukaan tanah dengan ketebalan 4,12 m), kerikil (resistivitas 55,7Ωm ditemukan pada kedalaman 4,12 m dan 3,11 m), lempung (8,9Ωm pada kedalaman 7,13 m dengan ketebalan 2,85 m), breksi andesit (116Ωm pada kedalaman 9,98 m dan ketebalan 22,2 m), pasir tuf yang terisi air (1,23Ωm pada kedalaman 32,2 m dengan ketebalan 3,3 m), serta andesit masif (204Ωm pada kedalaman 35,5 m). Dari hasil penelitian, diketahui bahwa air tanah di Kelurahan Bapangsari terletak pada kedalaman 34,5 m dengan ketebalan 9,5 m untuk lokasi kedua, yang diperkirakan didominasi oleh pasir tuf yang terisi air 1,50Ωm.

Pada tahun 2018, Pratiwi et al melakukan penelitian mengenai β€œPenerapan Metode Geolistrik Konfigurasi Wenner Mapping Untuk Mengetahui Rembesan Air Lindi di TPA Talang Gulo Jambi.” Air tanah di pemukiman penduduk TPA Talang Gulo berpotensi mengalami pencemaran oleh air lindi. Metode geofisika dilakukan untuk mengetahui pencemaran air tanah oleh air lindi. Konfigurasi yang digunakan dalam pengukuran ini adalah Wenner dengan variasi panjang lintasan yaitu 50 meter dan 60 meter. Hasil analisis RES2DINV menunjukkan bahwa di setiap lintasan terdeteksi adanya sebaran air lindi. Air lindi tersebut merembes ke dalam tanah dan sebarannya menuju ke perkebunan karet warga baik rembesan dari kolam lindi maupun aliran air lindinya langsung yang mengalir ke pemukiman warga, serta mencemari kualitas air tanah disekitar kawasan TPA. Nilai resistivitas rembesan air lindi yang didapatkan sekitar 0,0200 Ωm sampai dengan 5,0 Ωm.


Parafrase :
Pada tahun 2018, Pratiwi dan rekan-rekannya mengadakan penelitian mengenai β€œPenerapan Metode Geolistrik dengan Konfigurasi Wenner Mapping Untuk Mengidentifikasi Rembesan Air Lindi di TPA Talang Gulo Jambi. ” Di pemukiman warga TPA Talang Gulo, air tanah berisiko tercemar akibat air lindi. Untuk mengidentifikasi pencemaran ini, dilakukan metode geofisika. Dalam pengukuran ini, konfigurasi yang digunakan yaitu Wenner dengan variasi panjang jalur sebesar 50 meter dan 60 meter. Analisis menggunakan RES2DINV mengungkapkan bahwa terdapat sebaran air lindi pada setiap jalur yang diukur. Air lindi tersebut meresap ke dalam tanah dan menyebar, menuju kebun karet milik warga, baik dari kolam lindi maupun aliran air lindi yang langsung mengalir ke permukiman. Akibatnya, kualitas air tanah di sekitar TPA menjadi tercemar. Nilai resistivitas dari air lindi yang terdeteksi berkisar antara 0,0200 Ωm hingga 5,0 Ωm.

Pada tahun 2019, Muhardi dan Nasaruddin melakukan penelitian keberadaan akuifer air tanah studi kasus Desa Clapar Kabupaten Banjarnegara. Hasil penelitian berupa sebaran nilai resistivitas secara sounding pada titik pertama (VES01) yaitu 0,33 – 377 Ξ©m hingga kedalaman 70 m. Keberadaan air tanah diduga terdapat pada akuifer bebas dengan kedalaman 3,09 – 17,6 m (ketebalan 14,51 m), dan akuifer tertekan dengan kedalaman 24,8 – 50,5 m (ketebalan 25,7 m). Sedangkan sebaran nilai resistivitas secara sounding pada titik kedua (VES02) yaitu 7,21 – 1.281 Ξ©m hingga kedalaman 70 m. Keberadaan air tanah diduga terdapat pada akuifer bebas dengan kedalaman 5,22 – 9,82 m (ketebalan 4,6 m), dan akuifer tertekan dengan kedalaman 37 – 63,9 m (ketebalan 26,9 m). Akuifer bebas di lokasi penelitian diinterpretasi berada pada litologi pasir lempungan, sedangkan akuifer tertekan diinterpretasi berada pada litologi pasir hingga pasir kerikilan.


Parafrase :
Pada tahun 2019, Muhardi dan Nasaruddin melakukan penelitian untuk menemukan keberadaan akuifer air tanah di Desa Clapar, Kabupaten Banjarnegara. Penelitian ini menghasilkan peta sebaran nilai resistivitas pada titik pertama (VES01) yang berkisar antara 0,33 hingga 377 Ξ©m hingga kedalaman 70 m. Diduga ada air tanah di dalam akuifer bebas dengan kedalaman antara 3,09 dan 17,6 m (ketebalan 14,51 m), serta akuifer tertekan pada kedalaman 24,8 hingga 50,5 m (ketebalan 25,7 m). Pada titik kedua (VES02), sebaran nilai resistivitas menunjukkan nilai antara 7,21 hingga 1. 281 Ξ©m hingga kedalaman 70 m. Air tanah pada titik ini diduga terdapat di akuifer bebas pada kedalaman 5,22 hingga 9,82 m (ketebalan 4,6 m) serta akuifer tertekan pada kedalaman 37 hingga 63,9 m (ketebalan 26,9 m). Interpretasi menunjukkan bahwa akuifer bebas di lokasi penelitian terdiri dari litologi pasir lempungan, sementara akuifer tertekan diinterpretasikan terdapat pada litologi pasir hingga pasir kerikilan.

As’ari et al (2020) melakukan penelitian tentang investigasi akuifer air tanah di Banua Buha Asri 1 Kelurahan Buha Manado dengan menggunakan metode geolistrik resistivitas. Akuifer air tanah potensial teridentifikasi mempunyai resistivitas ρ ≀ 24 Ξ©m dengan kedalaman ≀ 8 m pada lintasan 1 dan ≀ 12 m berada pada lintasan 2. Air tanah dalam teridentifikasi pada kedalaman β‰₯ 20 m pada kedua lintasan. Terdapat 2 jenis akuifer air tanah yaitu air tanah permukaan yeng tersebar pada lintasan 1 dan 2 dengan kedalaman ≀ 20 m, dan akuifer air tanah dalam dengan kedalaman β‰₯ 20 m. Akuifer air tanah dalam potensial di lintasan 1 pada meter ke 225 sampai 270 dengan kedalaman mencapai 60 m. Akuifer air tanah permukaan dan akuifer air tanah dalam tidak saling menerus dan tidak terhubung.
Β  Pada tahun 2021, Putra melakukan penelitian mengenai Pemodelan Akuifer Menggunakan Metode Resistivitas Pada Daerah Berpotensi Akuifer Di Kecamatan Jaluko Muaro Jambi. Hasil penelitian menunjukkan potensi akuifer tinggi berada pada daerah utara hingga timur laut penelitian yang memiliki rentang indeks NDVI 0,319 – 0,503 yang memiliki vegetasi yang rimbun yang mempengaruhi keterdapatan air dibawah permukaan serta rapat dan memiliki nilai resistivitas batuan pada rentang 54,2 – 1387 Ωm. Jenis litologi akuifer didaerah penelitian yang tersebar merupakan batupasir dengan rentang nilai resistivitas 201 – 1387 Ωm dan batupasir tuffan dengan rentang nilai resistivitasnya 54,2 – 195 Ωm memiliki porositas dan permeabilitas yang baik sehingga dapat menyimpan dan meloloskan air dengan sebaran akuifer yang dangkal hingga dalam. Kedalaman akuifer yang diperoleh rata-rata berkisar 9 meter.
Pada tahun 2021, Masitoh dkk melakukan penelitian mengenai Pendekatan Hidrogeomorfologi dan Pendugaan Geolistrik Untuk Mengidentifikasi Potensi Air Tanah di Jedong Malang. Pengujian dilakukan menggunakan konfigurasi schlumberger. Hasil penelitian menunjukkan hasil analisis material batuan yang terletak di kedalaman 1-4 meter, dengan ketebalan rata-rata 3 meter yang diduga memiliki jenis material batupasir. Batupasir tersebut diduga bersifat akuifer bebas yang merupakan akuifer jenuh air karena memiliki nilai resistivitas sebesar 349,09 Ωm. Lapisan pasir memiliki kemampuan mengaliri air lebih banyak dibandingkan tuff dan lempung.
Β Β  Pada tahun 2021, Afifuddin melakukan penelitian mengenai β€œIdentifikasi Lapisan Akuifer Menggunakan Metode Geolistrik Konfigurasi Schlumberger di Perumahan Arza Griya Mandiri Jambi”. Berdasarkan integrasi dengan geologi regional dan studi literatur daerah Perumahan Arza Griya Mandiri 1 yang dilalui formasi Muara Enim dimana bagian bawah formasi ini tersusun oleh batulempung dan batupasir. Bagian atas formasi ini tersusun oleh Top Soil. Berdasarkan pengolahan data didapatkan 4 lapisan yang terdiri dari batulempung, lapisan akuifer, batupasir, dan Top Soil. Batuan yang paling tinggi resistivitasnya adalah lapisan 2 yaitu 200 – 2000 Ωm dan yang paling rendah adalah lapisan 1 yaitu 0 – 100 Ωm. diantara lapisan Ω dan 4 (lapisan 3) merupakan lapisan akuifer dengan nilai resistivitasnya berkisar 100 – 200 Ωm dengan litologi batupasir .
Geologi Regional
Geologi regional memberi informasi mengenai tatanan geologi suatu wilayah dengan cakupan dan skala yang relatif luas. Setiap wilayah mempunyai karakteristik geologi yang berbeda-beda dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan proses pembentukannya. Peta Geologi Regional daerah penelitian mampu memberikan gambaran umum tentang kondisi geologi daerah penelitian dan dasar untuk melakukan interpretasi awal dalam melakukan penelitian.
Pulau LombokΒ  adalahΒ  gugusanΒ  Kepulauan di Nusa Tenggara. Pada bagian timur dibatasi oleh Pulau Sumba, bagian barat dibatasi oleh Bali, pada bagian selatan dibatasi oleh Samudra Hindia dan pada bagian utara dibatasi oleh Laut Flores (Ariq A. Naufal 2021 dalam Bemmelen, 1949). Berdasarkan fisiografinya Lombok berada dalam Busur Bergunung Api Nusa Tenggara yang bagian baratnya ialah bergunung api Banda Dalam danΒ  sebelah timur ialah bagian dari Busur Sunda. Secara geologi Lombok berada pada Busur Banda dengan kepulauan yang terbentuk dari pegunungan vulkanik muda.
Geologi regional daerah penelitian berada wilayah Dusun Nonen, Desa Mareje yang berada pada koordinat 08Β°47’28.23″S – 116Β°06’27.23″T. Merupakan kawasan administrasi yang terletak di ujung selatan Kecamatn Lembr,Kabupaten Lombok Barat.


Parafrase:
As’ari et al (2020) melakukan studi tentang penyelidikan akuifer air tanah di Banua Buha Asri 1 pada Kelurahan Buha Manado dengan memakai metode geolistrik resistivitas. Akuifer air tanah yang berpotensi ditemukan dengan nilai resistivitas ρ ≀ 24 Ξ©m dan kedalaman ≀ 8 m pada lintasan 1, serta ≀ 12 m di lintasan 2. Air tanah dalam terdeteksi pada kedalaman β‰₯ 20 m di kedua lintasan. Terdapat dua tipe akuifer air tanah, yaitu akuifer permukaan yang tersebar di lintasan 1 dan 2 pada kedalaman ≀ 20 m, serta akuifer dalam pada kedalaman β‰₯ 20 m. Potensi akuifer dalam ada di lintasan 1 antara meter ke 225 hingga 270 dengan kedalaman mencapai 60 m. Akuifer permukaan dan yang dalam tidak saling terkait dan terputus.Putra melakukan penelitian di tahun 2021 mengenai pemodelan akuifer dengan menggunakan metode resistivitas di daerah berpotensi akuifer yang berada di Kecamatan Jaluko Muaro Jambi. Penelitian ini menunjukkan bahwa potensi akuifer yang tinggi terletak di utara hingga timur laut area penelitian, dengan indeks NDVI berkisar antara 0,319 – 0,503 yang menandakan adanya vegetasi lebat yang mempengaruhi ketersediaan air di bawah tanah, serta batuan memiliki nilai resistivitas antara 54,2 – 1387 Ωm. Jenis litologi yang ditemukan di lokasi tersebut adalah batupasir dengan nilai resistivitas 201 – 1387 Ωm dan batupasir tuffan berkisar antara 54,2 – 195 Ωm, yang memiliki porositas dan permeabilitas yang baik, sehingga dapat menyimpan serta mengalirkan air dari lapisan akuifer dangkal hingga dalam. Kedalaman rata-rata dari akuifer yang didapat sekitar 9 meter.Pelaksanaan penelitian oleh Masitoh dkk pada tahun 2021 mengenai pendekatan hidrogeomorfologi dan pengujian geolistrik untuk mengenali potensi air tanah di Jedong Malang dilakukan dengan menggunakan konfigurasi schlumberger. Hasil pemeriksaan menunjukkan analisis terhadap material batuan ditemukan pada kedalaman 1-4 meter, dengan ketebalan rata-rata 3 m dan diperkirakan merupakan material batupasir. Batupasir ini diduga sebagai akuifer bebas, yang berfungsi sebagai akuifer jenuh air, dengan nilai resistivitas 349,09 Ωm. Lapisan pasir dalam penelitian ini menunjukkan kemampuan untuk mengalirkan air yang lebih banyak dibandingkan dengan tuff dan lempung.Afifuddin pada tahun 2021 melakukan penelitian berjudul “Identifikasi Lapisan Akuifer dengan Metode Geolistrik Konfigurasi Schlumberger di Perumahan Arza Griya Mandiri Jambi”. Dengan mengintegrasikan data geologi regional dan literatur, daerah Perumahan Arza Griya Mandiri 1 termasuk dalam formasi Muara Enim, di mana bagian bawah formasi terdiri dari batulempung dan batupasir, serta bagian atas yang tersusun oleh Top Soil. Pengolahan data menunjukkan adanya 4 lapisan, yaitu batulempung, lapisan akuifer, batupasir, dan Top Soil. Lapisan dengan resistivitas tertinggi adalah lapisan 2, berkisar antara 200 – 2000 Ωm, sedangkan lapisan terendah, yaitu lapisan 1, berada di nilai 0 – 100 Ωm. Di antara lapisan 3 dan 4, lapisan 3 adalah akuifer dengan nilai resistivitas antara 100 – 200 Ωm dan terdiri dari batupasir.Geologi RegionalGeologi regional memberikan informasi tentang struktur geologi suatu wilayah dengan cakupan yang luas. Setiap daerah memiliki karakteristik geologis yang berbeda, yang dipengaruhi oleh lingkungan dan proses pembentukannya. Peta Geologi Regional dari daerah penelitian memberikan gambaran umum mengenai kondisi geologi di lokasi tersebut dan sebagai dasar untuk interpretasi awal dalam melakukan analisis lebih lanjut.Pulau Lombok adalah bagian dari kelompok pulau di Nusa Tenggara. Di bagian timur, pulau ini bertemu dengan Pulau Sumba, sementara di sisi barat berbatasan dengan Bali. Samudra Hindia mengelilinginya di selatan, dan Laut Flores terletak di utara (Ariq A. Naufal 2021 dalam Bemmelen, 1949). Dalam hal fisiografi, Lombok termasuk dalam Busur Gunung Berapi Nusa Tenggara, dengan pegunungan vulkanik Banda Dalam di sebelah barat dan bagian dari Busur Sunda di sebelah timur. Secara geologi, Lombok tergolong dalam Busur Banda, yang terdiri dari pulau-pulau yang terbentuk dari gunung berapi muda.Geologi area yang diteliti ada di Dusun Nonen, Desa Mareje dengan koordinat 08Β°47’28. 23″S – 116Β°06’27. 23″T. Ini adalah wilayah administratif yang terletak di bagian selatan Kecamatan Lembr, Kabupaten Lombok Barat.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai